Marketing Strategies for Experiential Marketing

Creative without strategy is called art, creative with strategy is called advertising.”

– Prof. Jef I. Richards –

Era komunikasi digital yang terus berkembang sampai dengan tahap ini telah berhasil mendesak perkembangan strategi pemasaran untuk semakin kreatif, interaktif dan massive dengan melebur berbagai platform media yang ada, baik itu OOH (Out Of Home), Digital Media, Commercial Video maupun Event Activation kedalam sebuah bauran dan bentuk promosi yang memorable, efektif dan solid. Pada hari ini, Indonesia merupakan target pasar yang potensial dan sangat menjanjikan bagi perusahaan-perusahaan besar nasional dan multinasional dalam mencetak keuntungan sebesar-besarnya melalui digital integrating media, hal ini diperkuat berdasarkan hasil statistik yang dirilis oleh Milwardbrown dalam AdReaction yang menunjukan bahwa Indonesia berada dalam peringkat pertama pengguna digital medium terbanyak di dunia, bahkan menurut US Census Bureau dalam Global Web Index melansir bahwa pengguna aktif smartphone di Indonesia melebihi dari jumlah penduduk yang berada di Indonesia, yakni 112% penetrasi.

 

Experiential Marketing merupakan suatu bentuk media platform mutakhir yang memiliki fungsi seperti halnya media ATL lainnya, tetapi memiliki siasat yang berbeda daripada media platform lainnya, yaitu berperan penting dalam menstimulan konsumen ataupun calon konsumen untuk merasakan (experiencing) secara langsung dan ataupun tidak langsung terhadap suatu produk ataupun campaign yang ditawarkan melalui sebuah stimulus kreatif dengan tujuan akhir yaitu menciptakan komunikasi beruntun atau efek domino atau yang pada saat ini lebih dikenal dengan kata Virals.

 

Melalui Experiential Marketing suatu campaign ataupun brand dapat diolah dan didistribusikan lebih kreatif, sehingga campaign tersebut akan lebih mudah dikonsumsi oleh audience Kodi iOS tanpa ada penolakan yang signifikan, bahkan terlebih lagi audience akan turut berpartisipasi dalam mendistribusikan campaign itu secara aktif sehingga tercapai tujuan akhir yang diinginkan yaitu virals campaign.

 

Experiential Marketing lazimnya diawali dari integrasi anrtara platform OOH dan Event Activation yang dikemas secara kreatif / Out-Of-The-Box sehingga menciptakan sebuah experiencing, baik dikonsumsi sebagai happily experiencing ataupun fearful experiencing sesuai dari output yang diinginkan. Lalu tahap selanjutnya aktivasi tersebut didokumentasikan dan dikemas kedalam sebuah video campaign yang bertujuan untuk menstimulan audience yang tidak hadir secara langsung di ground event, hasil produksi video campaign lalu didistribusikan di digital media khususnya yaitu digital media dengan social media platform agar video campaign lebih mudah menjalar dan dikonsumsi secara subconscious, sehingga audience tanpa paksaan akan mengkonsumsi dan secara langsung akan turut aktif dalam mendistribusikan video campaign tersebut. Berbeda dari Guerilla Marketing, Experiential Marketing membutuhkan effort yang lebih besar daripada Guerilla Marketing, khususnya dalam proses produksi dan eksekusi. Hal ini disebabkan karena perlunya pengintegrasian yang lebih komplex antara satu platform dengan platform lainnya demi mencapai titik maximum exposure, sehingga campaign akan memorable dan selalu diingat oleh audience.

 

“Business has only two functions – marketing and innovation.”

– Milan Kundera –

 

Di lihat dalam perkembangannya “hasil” Experiential Marketing sudah dirasakan secara langsung oleh beberapa brand-brand raksasa dunia, seperi Coca-Cola, Mc Donald’s, Samsung, Nescafe dan brands raksasa lainnya, sehingga brands tersebut sudah secara efektif dan kontiniti terus menerus menjalankan strategi marketing ini secara persuasif. Sekarang, sudah selayaknya strategi ini diadopsi di Indonesia untuk turut serta berasosiasi kedalam bentuk komunikasi yang mutkhir, kedalam komunikasi era modern yang mengintegrasikan semua bentuk media kedalam suatu campaign yang akan selalu diingat oleh dunia.

Catura Pasha